BPS Ungkap Posisi Ngawi Sebagai Lumbung Pangan Jatim dan Nasional

Cakranews.net, Ngawi – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngawi menyelenggarakan kegiatan literasi statistik pada Selasa (16/12/25). Acara tersebut digelar di Rumah Makan Notosuman, Desa Watualang, Kecamatan Ngawi. Literasi ini mengungkap peran strategis Kabupaten Ngawi dalam memproduksi kebutuhan pangan nasional.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai data-data terkait statistik. BPS memaparkan metodologi pengumpulan data dan capaian produksi pangan daerah. 

Dalam pemaparannya, BPS menegaskan posisi Kabupaten Ngawi sebagai daerah penghasil pangan utama. Kontribusi ini tidak hanya signifikan di tingkat regional Jawa Timur tetapi juga secara nasional. 

"Kabupaten Ngawi merupakan lumbung pangan di Jawa Timur bahkan nasional, utamanya untuk penghasil beras," kata Ambar Budhi Setyo ketua tim statistik produksi BPS Kabupaten Ngawi.

Ambar menjelaskan bahwa data produksi padi dihasilkan melalui dua metode survei utama. Metode pertama adalah survei ubinan yang dilakukan untuk memperkirakan produktivitas. Survei ini dilaksanakan secara menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Ngawi.

"Ada dua survei, yang pertama survei ubinan yang menyebar di seluruh Kabupaten Ngawi. Dari situlah nanti menghasilkan produk padi seberapa banyak,"

Metode kedua adalah Kerangka Sampel Area (KSA) yang menggunakan pendekatan pemantauan rutin. Tim BPS melakukan kunjungan bulanan ke titik sampel yang telah ditetapkan. Pemantauan ini bertujuan untuk melihat perkembangan tanaman padi secara langsung.

"Kedua adalah KSA atau kerangka survei area. Jadi setiap bulan itu kita berkunjung terus ke tempat khusus di mana sampelnya berada, kita potret seperti apa tanaman padi itu perkembangannya,"

Berdasarkan data sementara, produksi padi Ngawi tahun 2025 menunjukkan tren positif. Terjadi kenaikan produksi sebesar 3,04% dibandingkan dengan realisasi tahun 2024. Angka sementara ini masih berpotensi untuk disesuaikan sebelum rilis resmi.

"Jadi posisi Ngawi itu jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami kenaikan. Kenaikannya sekitar 3,04% kalau tahun 2024 itu totalnya 123,05 tahun 2025 ini 126,09,"

Ambar menekankan bahwa angka yang dipaparkan masih bersifat sementara. Data tersebut masih mengandung angka potensi dan akan diverifikasi lebih lanjut. Rilis angka final akan dilakukan pada awal tahun berikutnya sebagai bagian dari proses statistik yang berjenjang.

"Di sana masih mengandung angka potensi, jadi kita sampaikan masih angka sementara. Nanti pada saatnya, tahun depan di awal tahun kita akan rilis angkatannya,"

Meski produksi padi naik, data produksi beras atau padi giling kering (GKG) justru mengalami penurunan. Penurunan ini berdampak pada peringkat Ngawi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Ngawi turun satu peringkat dari posisi sebelumnya.

"Data 2025 produksi padi giling kering mengalami penurunan dibanding dengan tahun sebelumnya. Sebelumnya Kabupaten Ngawi menjadi nomor 2 se-jawa Timur, ini nomor 3 setelah Bojonegoro dan Lamongan,"

Ambar merincikan angka produksi padi giling kering untuk tiga kabupaten teratas di Jawa Timur. Lamongan memimpin produksi, disusul oleh Bojonegoro di posisi kedua. Kabupaten Ngawi menempati peringkat ketiga dengan produksi yang masih cukup besar.

"Lamongan memproduksi 904, 93 ribu ton Kabupaten Bojonegoro 886,46 Kabupaten Ngawi 775,47,"

Literasi statistik ini diharapkan dapat memberikan gambaran akurat kepada masyarakat. Dengan memahami data, diharapkan semua pihak dapat menyusun strategi untuk mengoptimalkan potensi pangan. Ke depan, Ngawi diharapkan tetap konsisten menjadi penopang ketahanan pangan nasional. (RYS)


Komentar