PENDIDIKAN BUDI PEKERTI & RELIGIUS PERSOALAN SERIUS DI NGAWI

Dialog lintas profesi bedah kebuntuan.

CAKRANEWS.NET-Malam itu, Dialog Lintas Profesi makin menarik dan menggelitik. Lantaran  banyak persoalan yang didialogkan dan  perlu dibedah jika perlu  diketahui oleh pemangku kebijakan atau  stakehoder.  Bukan  soal   politik ‘kedaerahan’ saja,  namun juga dibahas persoalan pendidikan. Benar pendapat  pakar pendidikan persoalan pendidikan  begitu pelik karena pendidikan tak lepas dari sisi-sisi  kehidupan lain. |“Pendidikan  aspek dasar kehidupan manusia. Tidak sekedar  mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi juga pembelajaran membangun akhlak, berbudi pekerti luhur dan membentuk peradaban,” ujar Samsul  Hadi, Dosen STIT Islamiyah Karya Pembangunan  dan juga Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahlatul Ulama (LTM-NU) Ngawi.

Di Ngawi pun  membangun  akhlak, karakter, budi pekerti bahkan religius anaK didik , masih menjadi kegelisahan para pendidikan dan orangtua.  Pendidik, orangtua menginginkan  anak-anak  berakhlak, memiliki karakter yang berbudi luhur dan religius.  Memecahkan kegelisahan itu tidak bisa  pada  satu sisi guru atau sekolah. Langkahnya  harus selaras dengan orang tua,  masyarakat dan kebijakan pendidikan.

 Dari catatan Samsul, ada usaha untuk membangun  karakter dengan me-ngembangkan nilai-nilai budi pekerti di sekolah.  Kenyataannya  belum maksimal. Ujung-ujungnya, boleh dikata prestasi belum moncer, kurang mengedukasi. Dia mencontohkan pendidikan di negeri tirai bambu.  Ia pernah mendapat tugas meneliti pendidikan di Ghoungzou. “Kalau boleh membandingkan,  di China luar biasa. Karena itu  pendidikan di Ngawi perlu perhatian khusus,” tandas Samsul, yang sering melakukan penelitian  pendidikan.

Masih menurut catatan Samsul,  budi  pekerti sebagai tingkah laku, akhlak dan watak.  Budi  alat batin yang memandu akal dan perasaan untuk menimbang baik buruk, benar-salah, watak, perbuatan, daya-upaya dan akal. Sering diartikan sebagai nalar, pikiran, akal.  Kualitas diri seseorang yang tercermin dalam ucapan dan perbuatannya.  Pekerti berkaitan erat dengan sikap dan perilaku dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan alam sekitar.

Karena itu karakter, budi pekerti  anak-anak  harus  mendapat perhatina penuh  dalam proses pendidikan.  Jaman sudah berubah tapi karakter-budi pekerti harus tidak berubah. Dulu kalau orangtua memarahi,   anak-anak tidak berani menjawab pilih diam. Anak sekarang, dimarahi langsung  menjawab,  matapun  ikut melototi orangtua. Soal kebiasaan, sekarang anak-anak sudah mengenal ngopi di ankringan, alasan mengerjakan tugas  di angkringan  daripada di rumah. “Makanya di Ngawi  ini muatan  pendidikan akhlak, budi pekerti, religus harus mendapat perhatian serius,” tuturnya.

Di masa pandemi Covid-19,  lanjut Samsul, pendidikan juga mengalami persoalan yang   perlu segera dicari pemecahannya.  Tidak harus menungggu.  Dari hasil penelitian, di Ngawi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan cenderung mengalami penurunan  drastis.  Cuma 66 persen. Dari angka itu  artinya ada persoalan pendidikan  yang  harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Jangan sampai persoalan tersebut  berujung pada terpuruknya kualitas pendidikan anak, kualitas sekolah dan pendidikan di Ngawi.

Nah,. Kalau soal kualitas pendidikan,  maka ada hubunganya dengan manajemen pendidikan.   “Bagaimana Ngawi  dalam mengelola pendidikan. Ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah daerah, pendidik, peserta didik, sarana-prasarana dan kurikulum. Sudah pasti  praktiknya pendidikan  di Ngawi  ditemui masih ada masalah, tandasnya. (rto)

 

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top