WAKTUNYA KOLABORASI & SINERGI, BUKAN KONDUSIFITAS
Dialog Lintas Profesi resolusi di tengah keprihatinan

     CAKRANEWS.NET- Berawal dari perbincangan  keprihatinan atas berbagai-bagai persoalan  di tengah  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,  akhirnya Cakranews.Net, Aliansi Jurnalis  Nasional (AJN) Ngawi dan politisi Ngawi bersepakat  perlunya  dialog yang lebih berisi, terarah dan menjadi bagian resolusi untuk menjawab  dan menghadapi persoalan yang muncul sekarang ini. 

Bagi Caraknews.Net, dialog  adalah  level tertinggi dari diskursus  atau komunikasi antar orang, antar profesi ataupun antar komunitas atau  lembaga. Dialog  itu indah, karena pada ujungnya  jelas. Bahkan dialog itu  lebih cenderung  mencari titik-titik temu guna mengatasi persoalan.

Beda  dengan debat. Cenderung mencari benar-salah.  Antar individu merasa benar.   Merasa tidak salah. Saat dialog  semua yang terlibat menyampaikan keprihatinan sesuai dengan fakta. Berusaha  mengepankan   kerendahan hati untuk menempatkan resolusi dalam menghadapi berbaga-berbagai masalah sekarang ini. Itulah harapan penyelenggaraan Dialog Lintas Profesi: Selamat Tinggal 2020, tahun 2021 Ngawi bergerak maju, digelar Senin malam, 4 Januari 2021 di Graharasa.  Hadir sejumlah profesi. Politisi, Dosen, Olahragawan, Praktisi Hukum, Mahasiswa, jurnalis dan sejumlah  asosiasi.

Supeno, anggota DPRD Kabupaten Ngawi dan juga Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Ngawi memliih mendialogkan bahwa dalam kehidupan politik,  antara teori dan praktek nyaris tidak  sinkron. Prakteknya tidak ada namanya musuh abadi. Musuh sepanjang massa. Politik selalu mengelola kepentingan. Ada ‘pertarungan’ politik atau kekuasaan. Pemenang dalam pesta  demokrasi akan lebih dominan.  Yang kalah mengikuti program apa yang dicanangkan oleh  pemenang. Syahwat para politisi ketika mamasuki arena permainan (pemilu) pasti berharap kemenangan. Ini sangat dimaklumi karena bermain apapun saat melakukan pertarungan target yang diraih adalah kemenangan.

Karena itu mereka  yang berpolitik  pasti  memiliki jiwa petarung.   Mereka punya semangat’ berkuasa’ akan menempuh jalur politik. Sedangkan mereka yang tidak mau masuk dalam ranah kekuasaan, maka memilih organisasi kemasyarakatan (civil society) sebagai alat perjuangan. “Maka dari itu politik itu cenderung pada kekuasaan, pada kepentingan,” ujar Supeno, yang juga inisiator penyelenggaraan dialog lintas profesi ini.

Hal itu wajar.  Ketika politisi memenangkan pertarungan,   koridornya  harus  diperuntukan  pada  kemaslahatan  masyarakat.  Untuk  menata pranata sosial yang lebih baik. Bukan kepentingan kelompok atau golongan.

Sejak lima tahun silam, menurut Supeno, situasi kondisi  kehidupan politik di Ngawi sudah  mulai bergeser.  Ada dinamisnya tetapi tetap harmonis. Semua partai politik diajak berjuang bersama sesuai dengan potensi yang dimiliki.  Ia mengakui pernah  menyampaikan  model politik. "Berkolaborasi, Berkompetisi maupun cara Amputasi”

Ke depan, Lanjut Supeno, Ngawi membutuhkan  model politik kolaborasi ( Collaboration ). Adalah salah satu jenis permainan politik yang  mengutamakan membangun kerjasama untuk berbagi. Tidak ada monopoli. Ini sesuai dengan falsafah budaya kita " Berat sama dipikul ringan sama dijinjing ".

Kompleksitas  pemangku kepentingan di Ngawi meliputi representasi pelaku usaha, politisi, akademisi, organisasi agama dan masyarakat, serta berbagai komponen atau kepentingan yang lain pengaturan model " berkolaborasi " sangat tepat digunakan. Karena dengan model berkolaborasi kepentingan para pemain (pemangku kepentingan) dapat terakomodir, dan impactnya  kesenjangan ekonomi dan politik akan semakin dapat tereduksi karena semua pemangku kepentingan sudah terakomodir kran/saluran aspirasi politiknya. "Berkolaborasi "  sebagai solusi yang terbaik agar Kabupaten Ngawi ke depan  semakin menjadi lebih baik,’ tandas Supeno.

Pembicara lain sependapat dengan model politik kolaborasi,  dipraktekkan di Ngawi. Karena  jaman sudah sudah berubah. Dunia juga berubah. Hampir semua  negara  mempraktekkan sistem kolaborasi, bahkan sinergisitas untuk  untuk mempertahankan eksistensi  negaranya atau wilayahnya. “Di Ngawi sudah waktunya menjalankan  kolaborasi seperti disampaikan Pak Supeno, dan perlu ditambah dengan sinergi. Kolaborasi dan sinergisitas,” ujar  Sugiharto, Pimpred  Cakranews.Net.

Namun menurut Sugiharto,  dalam berkolaborasi dan bersinergi  jangan menonjolkan kondusifitas dalam setiap kehidupan,  apalagi dalam setiap muncul  persoalan. Jika ada persoalan,  harus segera diselesaikan secara tuntas.  Dikondusifkan itu lebih cenderung menekan  persoalan agar tidak muncul, tetapi solusinya  tidak benar-benar tuntas. “Kondusifitas bisa menjadi  bom waktu di kemudian hari kalau itu ditonjolkan terus-menerus,” ujarnya. (rto)

 

 

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top