Hariyanto, Owner Hargo Dumillah, pengembang Wisata Monumen Soerjo, dan Dito pensehat hukum.

·    * TULISAN DARI KAYU JATI,  BERATNYA  650 KILOGRAM

CAKRANEWS.NET, NGAWI---Siapa sangka  dulu terkesan ‘sakral ‘  berubah jadi wisata sejarah familiar.  Itulah Monumen Soerjo.  Mafhum,  monumen itu memang  ada kaitan  sejarah kelam tahun 1948.  Berlokasi  di jalan Ngawi – Solo,  Banjarejo, Pelang Lor, Tambakselo Barat, Pelang Lor, Kec. Kedunggalar ,  di tengah hutan  terdapat bangunan 3 patung.  Salah satu patung adalah Gubernur pertama Jawa Timur yang dibunuh oleh PKI pada tahun 1948.

Tempat wisata nyantai untuk ngopi barengpun bisa.

Di tangan Hariyanto, owner Hargo Dumilah Grup ini berhasil ‘menyulap’ monumen Soeryo hingga tertata menjadi  taman kebun yang menarik, indah  dengan ribuan tanaman hias nan sejuk  meskipun di antara hutan  pohon jati. “Disini ada  ribuan tanaman dari 37 jenis tanaman.  Saya  berharap  monumen  Suryo menjadi  tempat wisata andalan  Ngawi. Menjadi wisata keluarga, wisata transit mereka yang  lewat jalur Ngawi, “ tutur Pak Hari, begitu panggilan sejari-hari Haryanto.

Tanaman ditata dengan  rapi, dipotong dibentuk seperti taman labirin.  Di area  taman dibangun gazebo dari bahan kayu jati. Enak dipandang, sejuk dirasakan. Memang cocok untuk  wisata keluarga dan transit.  Yang menggelitik adalah  tulisan “MONUMEN SOERYO”.  Sebelah barat  monumen, dibuat dari bahan  kayu jati tua. Per huruf beratnya  50 kilogram. Berarti  dengan jumlah huruf  (MONUMEN SOERJO) 13 , berat seluruh tulisan tinggal mengkalikan  50 kilogram. Jadi seluruh huruf  beratnya 650 kilogram. Untuk memasang tulisan  MONUMEN SOERJO, dibutukan beberapa tiang cor dengan kedalaman tiga meter. Tiang cor itu harus kuat agar mampu ditopang  huruf-huruf yang berat itu, dan agar tahan lama.  “Sengaja tulisan Monumen Soerjo dari kayu Jati, memanfaatkan alam sekitar yang hutan kayu jati.  Kita tidak dari bahan alumnium, baja atau apapun bahan lain yang biasa digunakan tempat wisata lain,” ujarnya.

Sejak Desember 2019, Hari secara resmi bergandengan dengan  Perhutani menggarap arena wisata Monumen Soerjo.  Kerjasama dalam wujud bagi hasil. Hargo Dumilah menggarap proyek fisik dan pengelolaan wisata, Perhutani menyediakan lahannya. Terlibat di dalamnya juga masyarakat desa setempat.  

Bukan hanya area di dalam monumen,  Hargo Dumilah lewat tangan dinginnya   Hari,  mengembangkan area  di sekitar seluar 27 hektar lebih menjadi wisata terpadu dengan  monumen hingga di utara  sisi jalan raya.  Kini dalam proses pengembangan kebun taman ,  kebun binatang mini, wisata kuliner, tempat parkir untuk  fasilitas kendaraan wisatawan, water boom. Bahkan ke depan bisa dibangun museum  sejarah terkait dengan  peristiwa yang dialami Gubernur Soerjo.  “Kita masih membangun, menata dan  mengembangkan wisata monumen Soerjo agar lebih menarik, sehingga membangkitkan  industri wisata Ngawi,” ujar pria yang sehari-hari seorang guru ini.

Investasi yang sudah dikeluarkan sudah menyentuh angka miliar rupiah.   Dengan investasi sebesar itu, ia berharap akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya warga sekitar. Termasuk mampu menyerap tenaga kerja.  Sejak  Maret  2020, karena ada Pandemi  Covid-19, wisata monumen Soerjo ditutup. Sekarang wisata  Monumen Soerjo dibuka kembali.  

“Hari ini Wisata Monumen Soerjo dibuka kembali. Terima kasih kepada teman teman semua atas dukungan pada Hargo Dumillah yang  ikut menata potensi wisata di Ngawi. Wisata ini  dibuka dengan tetap mengetrapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Saya berharap monumen Soerjo menjadi kebanggaan pariwisata  Ngawi baik lokal maupun tingkat nasional, seperti Wisata Srambang,” tandas Hari. (rto)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top