Penulis: Enni Aslihatul Kirom, Pengajar di MTs. Negeri 3 Ngawi Jawa Timur
DILEMATIS  kebijakan new normal  di masa pandemi Covid-19.Bagai buah simalakama bagi santriwan-santriwati pondok pesantren, anak-anak sekolah/madrasah dan mahasiswa. Santri sudah  diingatkan untuk kembali belajar ke lembaga pendidikan/madrasah/pesantrennya. Sudah ada yang kembali ke pesantren meskipun belum bisa diprediksi kapan Covid-19 berakhir. Ketika ada kumpulan dan ada aktifitas belajar mengajar masing-masing bisa tertular atau menulari, Jadi semua masih  serba fifty-fifty. Serba was-was, karena keberadaan Covid-19 sudah bergeser menjadi penyakit  tanpa gejala apabila menjangkiti seseorang. Itu temuan di kedokteran

Setelah mendapat banyak masukan, Mendikbud memutuskan dimulainya kegiatan belajar mengajar  di sekolah. Disusul ada  surat keputusan bersama (SKB) empat institusi yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajar Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di masa Pandemi Covid-19. Tahun ajaran 2020/2021 tidak berubah jadwalnya, tetap  pada bulan Juli 2020. Penetapan jadwal tersebut tidak berdampak pada metode pembelajarannya yang ada, baik daring maupun tatap muka.

Kementerian Agama juga menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama 4 Menteri Nomor 01/KB/2020, 516 Tahun 2020, HK.03.01/Menkes/363/2020, dan 440-882 Tahun 2020 tentang Panduan Kegiatan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/202, di Masa Pandemi COVID-19, serta mempertimbangkan prioritas keamanan, keselamatan, kesehatan lahir dan batin warga madrasah.

Satuan pendidikan madrasah jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan(MAK) dalam melaksanakan aktifitasnya wajib berpedoman pada SK Bersama 4 Menteri tersebut. Penyusunan dan pelaksanaan program pembelajaran di madrasah (RA,MI,MTs,MA dan MAK) pada masa pandemi Covid-19 berpedoman pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 2791 Tahun 2020 tentang Panduan Kurikulum Darurat pada Madrasah. Agenda pembelajaran di madrasah pada masa pandemi Covid-19 Tahun Ajaran 2020/2021 mengacu SK Dirjen Pendis Nomor 2491 Tahun 2020 tentang Kalender
 
Pendidikan Madrasah Tahun Pelajaran 2020/2021. Madrasah diwajibkan menyusun dan menerapkan protokol kesehatan sesuai pedoman dalam penyusunannya  dan memperhatikan beberapa prosedur pencegahan. .
Tetap memprioritaskan keamanan, keselamatan, kesehatan lahir dan batin warga madrasah/pesantren.  Pemberlakuan pembelajaran tatap muka di zona hijau, harus melalui tahapan persiapan lingkungan dan kesiapan,  tahapan sosialisasi, dan tahapan pelaksanaan protokol kesehatan.

Bagi madrasah berasrama/Pesantren  ada ketentuan khusus: berkewajiban mengikuti dan menerjemahkan SKB 4 Menteri tersebut secara luas pada seluruh lingkungan fasilitas yang dimiliki, baik lingkungan ruang belajar, taman, asrama, ruang makan, tempat ibadah, perkantoran, dan lainnya sehingga terwujud protokol (prosedur) yang menjamin keamanan, kesehatan, dan keselamatan warga madrasah selama 24 jam. Bisakah ketentuan khusus itu di-sami’na wa tho’ na (didengar dan dipatuhi)?  Ini yang masih menjadi keraguan  dan kegelisahan  wali santri. Belum lagi jika   kota lokasi  madrasah berasrama/pesantren ada yang bertatus  zona kuning, merah atau hitam. menulari penyakit, khususnya Covid-19.

Ada yang selalu yakin  atas kekuatan Yang  Maha  Besar, pertolongan dari Yang Maha Penolong dan Yang Maha Kuasa. Namun  ikhtiar untuk  mempertimbangkan baik buruknya harus tetap dilakukan secara matang. Jangan mengambil resiko yang terlalu besar  sehingga membawa kemudhoratan besar pula. Ini tidak lain untuk  menjaga supaya santri tak saling menulari penyakit, khususnya Covid-19.

Di Media massa, kalangan dokter spesialis anak pun sudah  mengingatkan agar hati-hati mengaktifkan  sekolah/madrasah atau pesantren di saat  pandemi  Covid-19 yang belum menentu ini. Di Indonesia sudah menyentuh di atas  90 ribu terjangkit Covid-19.

Penataan ruang tidur dalam satu kamar  yang  diisi  ramai-ramai, harus dievaluasi.  Saling pinjam handuk, sikat gigi, pakaian, gelas, sendok harus dihindari. Yang menjadi pikiran, santri-santri  berasal dari berbagai daerah, dengan  kondisi  zona Covid-19  yang berbeda-beda. Ada zona hitam, merah, kuning dan hijau sehingga secara mental maupun fisik  sangat dikhawatirkan. Ada pendapat menghadapi pandemi ini  yang aman, dan lebih baik  adalah  mengoptimalkan belajar atau menuntut ilmu di rumah by online /daring.
Mempertimbangan kemudhorotan adalah  pilihan yang sangat bermanfaat.  Menahan diri  lebih baik,   agar  kesehatan dan mental  santri terjaga dari resiko penularan Covid-19. Kasus  Ponpes di Magetan, dan  pondok modern pesantren di  Ponorogo dan daerah lain harus jadi pelajaran.
Naj, jika dipaksakan harus masuk, maka kesehatan dan  mental santri harus  mendapat perhatian serius. Setelah berbulan-bulan  berada di rumah karena pandemi covid-19, lantas  kembali ke  pesantren/asrama,  tetap bakal  berpengaruh pada situasi dan kondisi santri. Selama di rumah merasa  nyaman sesaat bersama keluarga.

Pertanyaannya,  bisakah dilakukan protokoler pencegahan covid-19 dengan ketat? Tentu dibutuhkan pengawasan ekstra selama 24 jam tanpa memejamkan mata, tanpa mengenal lelah dari guru atau pengasuhnya.  Dinas pendidikan, kementerian agama dan dinas kesehatan pun tentu harus benar-benar  melakukan pengawasan terhadap  protokol    pencegahan  Covid-19 di pondok, madrasah berasrama, selama  24 jam pula. Jangan sampai pesantren, madrasah/sekolah  berpotensi menjadi tempat  penyebaran covid-19. Jangan sampai   jadi klaster baru penyebaran Covid-19.  

Belajar, ngaji dari  rumah adalah pilihan. Waktunya anak belajar mandiri dengan pengajaran dipandu oleh ustadz/ustadzahnya, guru-gurunya lewat  daring. Orangtua ikut  berperan besar kala anak belajar dan ngaji di rumah. Orangtua  berkewajiban mengawasi anak agar terhindar  dari covid-19. Tujuan belajar dan ngaji lewat daring tidak lain  untuk menjauhkan  anak dari covid-19, menjaga dan melindungi anak tetap tangguh jasmani-rohaninya,  menjadi  generasi emas satu abad  Indonesia merdeka, di tahun 2045. Jangan mempersiapakan generasi emas ini terputus, gara-gara terhambat terkena  dampak pandemi  Covid-19.  Mohon pertolongan pada  Yang Maha Kuasa. (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top