•    BISAKAH BER-PHYSICAL DISTANCING  DI NEW NORMAL?
Oleh: Zid Sayyid Adam Asy-Syifa`, Anggota Cakra Menulis Club & Kelas XI MANPK-MAN 4 Jombang,  Asrama KH Hasbullah  Said,  Ponpes Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang
SEJAK wabah penyakit atau pandemi corona (Covid-19) merebak, kebijakan  pemerintah  dirasakan oleh masyarakat. Ada ‘gonjang-ganjing’ di masyarakat atas kebijakan pemerintah.  Di bidang ekonomi sudah tentu sangat mencolok.  Misalnya; pada  awal pandemi, ekonomi menurun drastis. Bahkan dianggap parah. Setelah itu pemerintah mulai berpikir ingin memulihkan keadaan ekonomi yang menurun.
 
Awalnya banyak mall, toko, dan tempat-tempat umum lainnya ditutup, sekarang sudah mulai dibuka kembali untuk mengembalikan jati diri ekonomi. Tetapi ada yang lebih perlu diseriusi pemerintah, yakni di bidang pendidikan. Kehidupan lembaga pendidikan. Termasuk  lembaga pendidikan pesantren, asrama pondok, boarding school atau  istilah lain yang pada intinya adalah lembaga pesantren.

Apa  yang harus diperhatikan terhadap lembaga pendidikan dan  pesantren? Untuk apa harus diperhatikan? Yang pasti mereka adalah  tiang negara  yang didamba-dambakan sebagai penerus bangsa oleh masyarakat Indonesia. Tentunya di masa pandemi ini,  sistem kehidupan pendidikan sehari-sehari  harus disesuaikan, tidak seperti sebelum pandemi. Bagaimana program new normal yang sedang diterapkan oleh pemerintah, terutama  new normal  di lingkungan pesantren?

Penerapan new normal di pesantren bisa dikatakan rumit. Mungkin  juga  sulit ditebak penerapannya, karena apa? Karena  kehidupan  antar santri, pengasuh sangat dekat. Pertemanan santri  kuat. Juga memang tradisi santri di pondok pesantren  sudah mendarah daging. Sehari-hari santri bertemu selama 24 jam. Tidak seperti  kehidupan di lembaga pendidikan umum, hanya 8-9 jam.  Misalnya, selama 24 jam berkumpul dan selalu dalam lingkungan  yang sama di area pesantren. Pagi  hingga siang belajar di sekolah, siang berjamaah sholat  di masjid, sore sholat Ashar berjamaah, dilanjut diniyah  bersama. Maghrib shalat berjamaah dan diniyah. Isya’ shalat berjamaah,  berkumpul  mengaji bersama, dan belajar bersama.

Belum tradisi atau kebiasaan santri saat makan. Terbiasa dalam satu lengser, layah, baskom atau satu alas makan  bersama. Istilah bathu makan bersama muluk (dengan jari) tanpa memakai sendok.  Jika minum  menggunakan satu gelas, satu botol  bersama. Saling ganti pinjam alat untuk mandi. Bak/ember cuci pakaian bergantian. 

Belum lagi, kebiasaan antar santri saling pinjam baju-celana, sarung dan lainnya. Itu belum saat  tidur. Dalam satu ruangan, sedikitnya ada 8 santri. Ada pesantren yang ruang tidurmya belasan hingga puluhan santri. Masih lumayan  jika fasilitas pesantren ada  ranjang tidur (bed),  biasanya   bertingkat. Masih banyak hal-hal kecil kelihatan sepele di pesantren menjadi bayang-bayang ketakutan santri menjelang kehidupan new normal di pesantren.
 
Banyak wali santri yang pro-kontra terhadap penerapan new normal di pesantren.  Pesantren- pesantren  telah mengeluarkan surat edaran penerapan era new normal  ke seluruh santri dan santriwati, sehingga dalam waktu dekat ini santri-santri dari berbagai daerah seluruh Indonesia akan kembali ke pesantren. Mereka dari daerah yang dinyatakan zona hitam, zona merah, zona kuning, zona hijau. 
 
Walaupun sekarang santri masih berada di daerah masing-masing, antar santri juga kontak online menanggapi soal new normal, dan harus kembali ke pesantren. Mereka pada galau bagaimana nanti ketika  berada di pesantren? Padahal wabah corona  masih seperti ini? Belum berangkat harus periksa dengan rapid test dulu. Biayanya cukup mahal.  Belum katanya,  akan dilakukan karantina lebih dulu di pesantren. Santri diminta membawa   belasan masker. Masih banyak aturan yang menyangkut new normal saat kembali ke pesantren.  Ini kata santri yang  memperhatikan  pelaksanaan  new normal di saat wabah penyakit Corona  masih gentayangan. Bisakah santri-santri mengubah  kebiasaan  saat pemberlakuan  new normal  di pesantren?Bisakah santri berphysical distancing di  lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi persaudaraan, kebiasaan berkumpul para santri selama ini?  Inilah  kekhawatiran dan kegalauan santri. 

Kedepannya, semua itu  demi  kepentingan kesehatan seluruh santri dan pesantren. Diharapkan  lebih memikirkan persiapan new normal dengan matang. Apa tidak  lebih  memilih  kebijakan belajar dan  ngaji dari rumah berupa  ‘majelis ilmu’  melalui daring (online) seperti yang sudah dilaksanakan, dan sudah berlangsung  hampir tiga  bulan ini?

Apakah  sementara tetap memberlakukan  ‘ngalap’  barokah kyai melalui daring? Artinya tetap menuntut ilmu, menyerap ilmu dari para masyaikh melalui daring  hingga  kondisi wabah Corona benar-benar mereda? Sehingga tidak membuat was-was  santri ketika  kembali ke pesantren. Bisa jadi santri akan masa bodoh dengan wabah corona ketika sudah berada di pesantren. Karena santri  lebih memilih menyerahkan diri kepada Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, tanpa menghiraukan wabah Corona.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah tentu bisa dijawab dengan mudah. Bukankah kita dampak wabah Corona yang menyerang teman-teman santri  di daerah Temboro  Magetan?  Demi kemaslahatan santri dan  pondok pesantren, kalau  sekarang boleh memilih, santri lebih baik menjalani new normal di rumah saja, demi menghindari munculnya klaster-klaster Covid-19 yang baru.  ‘Ngalap’ berkah ilmu kyai melalui daring adalah solusi  selama wabah penyakit corona yg  masih membuat was-was para santri. (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top