Penulis: Sugiharto, Dosen Manajemen Pendidikan Islam STIT Islamiyah Karya Pembangunan  &  Fungsionaris Pemuda Pancasila Ngawi
HINGGA DETIK INI gagasan, pikiran Bung Karno  diakui  cemerlang.  Tiga dari  lima azimat sudah diungkap sebelumnya.   Apa dua azimat  selanjutnya? Keempat, Trisakti  yang berdaulat di bidang poiitk, berdiri di bidang ekonomi, kepribadian di bidang kebudayaan. Trisakti merupakan identitas bangsa yang merderka, diucapkan  pidato17 Agutus 1964. Tahun Vivere Periloco (Tavip 1964). Pidato Tavip ini sangat terkenal. Karena selain Trisakti, dijelaskan pula teori-teori  perjuangan diantaranya  syarat revolusi Romantika,  Dinamika, dialektika, tujuan revolusi: Kemerdekaan, sosialisme, dunia baru, hukum revolusi. Revolusi diibaratkan lautan. Orang bisa bunuh diri berenang di lautan apabila tidak menguasai hukum lautan, ujar Bung Karno dalam Tavip 1964.

Hukum Revolusi itu ada 6 butir 1) setiap revolusi harus sesuai siapa kawan dan siapa lawan. Harus ditarik garis yang tegas antara kawan dan lawan,. 2) Revolusi harus revolusi rakyat, bukan revolusi istana, harus dilaksanakan dari atas dan dari bawah. 3} Revolusi adalah simponi destruktif dan konstruktif. Destruktif tanpa konstruktif  adalah anarkis, konstruktif tanpa destruktif adalah reformis. 4) Revolusi harus bertahap, tahap nasional demokrasi lebih dulu baru kemudian tahap sosialisme. 5) Revolusi harus punya  konsepsi dan program yang jelas dan tegas. 6) Revolusi harus punya soko guru, kader dan pimpinan.

Sudah tegas dan jelas apa  yang dimaksud Bung Karno soal revolusi.   Bung Karno  seolah mengingatkan jangan sembrono  berevolusi.  Dibalik 0itu  Bung karno menginginkan  agar  benar-benar dipikir dulu  dalam berevolusi.   Sejarah  mencatat, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan   gerakan G 30 S/PKI-nya. Apa yang terjadi,  gerakan  mengkudeta pemerintah sah  kala itu hanya berumur dua hari, dan gagal karena tidak dikehendaki seluruh rakyat.   

Revolusi dengan  pengemasan reformasi juga  terjadi tahun 1998. Keinginan mengganti Presiden  RI kala itu,  salah satu isu yang digelindingkan terkait praktek-praktek kolusi-korupsi-nepotisme (KKN), hingga krisis ekonomi.  Gerakan reformasi berhasil, disambut mahasiswa dan  reformis dengan suka cita. Namun dalam perjalanannya,  reformasi dianggap sudah kebablasan. Tidak sesuai dengan  harapan para reformis. Berjalan terseok-seok  meskipun  hingga sekarang banyak  orang  yang mengaku reformis, mengakui ikut  andil   dalam gerakan reformasi  duduk   di tempat strategis dalam sistem. 

Dari peristiwa  itu,  bangsa ini makin hati-hati jika mendengar atau  ada ajakan melakukan gerakan revolusi.  Ada jalan lain  untuk tidak melakukan revolusi. Perbaikan sistem dalam pemerintahan/birokrasi dibenahi, mental para pemimpin  dan mental birokra diperbaiki, jika tidak bisa dibina  lebih baik  minggir atau  mendapat tindakan tegas. .. Sampai saat ini mental para pemimpin dan  birokrat masih menjadi  keluhan di masyarakat.  Mereka  yang bermental koruptor harus  diadili  dengan seadil-adilnya.  Korupsi harus benar-benar diberantas,  tidak tebang pilih.  Soal  hukum berkeadilan  harus benar-benar ditegakkan.  Praktek KKN  harus dibumihanguskan.

Masih banyak  jalan untuk  tidak  harus menyelesaikan  persoalan  tanpa  revolusi. Kalau toh masih ingin  memperbaiki kondisi   pemerintahan, bangsa,  dan negara  ini harus  dimulai dari atas  ke bawah.  Orang banyak  mengibaratkan seperti  orang mandi. Mandi itu ‘gebyur’ air dari atas ke bawah. Dari kepala hingga ujung kaki. Bukan dari ujung kaki  baru ke kepala Jika  kepala digebyur  maka bakteri, virus, daki, kotoran di badan  mulai  anggota badan atas.hingga ke bawah akan luruh..  Badan jadi bersih. Apalagi  ketika mandi menggunakan sabun, badan menjadi bersih.  Tentunya  harus dengan air  yang bersih. Tidak hanya cuci tangan dan cuci muka,  seperti gerakan  melawan Covid-19.

Kelima, berdiri dengan empat azimat  lainnya di atas, diucapkan oleh Bung Karno  ketika pidato Proklamasi 17 Agustus 1965 yang berjudul Capailah Bintang-Bintang di Langit. Yang disebut  dengan Tahun Berdikari  (Takari 1965). Berdiri berarti berani mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan sendiri.  Seperti kali pertama  pidato Proklamasi 17Agurus 1945. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Itulah azimat ajaran Bung Karno yang dikenal dengan Panca Azimat Revolusi.  Lima azimat itu pernah  juga diiungkapkan  seorang pecinta Bung Karno,  Suyono Purbokusumo (almarhum)  asal Kediri  kepada  penulis.

Revolusi  adalah perjuangan, begitu kata Bung Karno . Perjuangan yang sejati-sejatinya. Perjuangan adalah  abadi. For a fighting nation there in  no journey end. Menurut Bung Karno dalam Takari 1965 perjuangan menuju cita-cita dengan bekal  persatuan.   Hanya dengan bersatu kita kuat, Tetapi  kita tidak dapat bersatu  apabila  kita tidak  kuat. Dharma Eva  Hato, Dharma Eva Hato Hantii, kuat karena bersatu, bersatu karena kuat. Begitu Bung Karno dalam pidato terakhirnya 17 Agustus  1966.   Jangan sekali-sekali  meninggalkan sejarah (Jasmerah 1966).

Namanya ajaran,  siapapun  boleh mengambil hikmahnya atau tidak. Asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kehidupan berbangsa-bernegara,  hikmah itu bisa diadopsi dalam diri individu. Perjuangan  bangsa ini terus berlanjutPerjuangan  berbangsa dan bernegara  harus pada alur  tatanan Pancasila dan NKRI. Kalau ada pendapat  Pancasila  dianggap  di atas agama adalah salah besar Pancasila  bukan  agama.  Justru butir-butir nilai  yang terkandung dalam Pancasila  adalah  sebagian dari ajaran-ajaran agama. Pancasila  menjadi bagian yang  tidak terpisahkan dalam   kehidupan berbangsa dan bernegara  dalam bingkai NKRI.  Inilah hikmah peringatan hari Pancasila 1 Juni. (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top