Penulis: Sugiharto, Dosen Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STIT Islamiyah Karya Pembangunan Paron Ngawi, Anggota FP-MPI Kopertais IV Jawa Timur 

* Hari Pendidikan Nasional  di Tengah Darurat Belajar Dari Rumah
TAHUN  ini tidak terlihat hiruk pikuk peringatan Hari Pendidikan Nasional  (Hardiknas), jatuh 2 Mei seperti tahun-tahun sebelum ini . Upacara bendera, lomba-lomba, pameran, seminar, workshop, pemberian guru teladan, siswa teladan, bahkan ivent ivent lain,  tidak ada. Peringatan hari pendidikan terpaling terasa sepi. Boleh jadi, ini tahun keprihatinan pendidikan kita.  Sekolah tutup sejak darurat Pandemi Covid-19.  Pemerintah memberlakukan belajar di rumah, proses belajar mengajar melalui online.  Proses pembelajaran dengan startup teknologi yang berfokus ke arah pada pendidikan’berbasis online.

Namun apa daya, proses pembelajaran dengan online dari rumah  belum optimal. Ada pendapat, evaluasi  pembelajaran.  masih ngambang. Hasil pembelajaran belum ada kepastian. Guru belum memberi penilaian pasti kepada peserta didiknya. Karena guru kesulitan untuk menilai tiga aspek  kriteria yang dituntut dalam setiap akhir pembelajaran. Aspek kognitif (pengetahuan), afektif  (sikap) dan psikomotornya (ketrampilan). Nah, bisakah ketiga aspek itu digambarkan secara utuh  sebagai hasil belajar atau prestasi  peserta didik selama satu semester ini? Atau selama  pembelajaran online ini?

Mungkin penilaian yang paling mudah di  aspek kognitif. Begitu setelah  peserta didik mengerjakan ujian mata pelajaran, maka akan muncul angka nilai. Bagaimana menilai aspek afektif dan  aspek psikomotor secara utuh?  Sudah  cukup terukurkah menilai kedua aspek melalui  belajar online yang berlasung hamper dua bulan ini? Misal dari aspek afektif,apakah peserta didik yang bersikap ogah-ogahan atau aktif saat mengikuti pembelajaran online, bisa dikatakan  baik, tidak baik, sedang atau sangat baik. Dengan kalimat lain, apakah dengan mengikuti proses pembelajaran online dapat dijadikan acuan penilaan dari sisi afektifnya?

Padahal, prinsip penilaian menurut kurikulum  baik pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI), jenjang pendidikan menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK) harus memenuhi berbagai syarat. Diantaranya penilaian harus Sahih,  penilaian didasarkan pada data mencerminkan kemampuan yang ingin diukur.

Harus objektif, penilaian sesuai prosedur dan kriteria yang jelas, tidak ada unsur subjektivitas dar guru. Harus Adil, penilaian tidak merugikan peserta didik, Tidak membedakan latarbelakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender, bahkan berkebutuhan khusus.
Harus Terpadu, prinsipnya guru harus berpikir sistem, karena guru adalah komponen tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Guru tidak cukup hanya memberi tugas, menyuruh mencatat siswanya.  Harus Terbuka, pengambilan keputusan yang digunakan dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.
Harus menyeluruh dan berkesinambungan, penilaian secara menyeluruh dan berkesinambungan, meliputi segala aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai sehingga guru dapat memantau perkembangan kemampuan siswa.
Harus Sistematis, penilaian harus terencana, bertahap  mengikuti langkah-langkah yang baku yang telah ditentukan.  Harus Berkriteria, penilaian mengacu kriteria ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
Harus Akuntabel, proses dan hasil penilaian  dapat dipertanggungjawabkan dari segi teknik, prosedur, dan  hasilnya. Harus Edukatif, penilaian untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan peserta didik.

Dengan hati lapang  dada, bolehlah pembelajaran online dari rumah  dianggap ‘acak-acakan’, lantaran dilaksanakan dalam situasi sangat  darurat.  Tidak jelas proses dan arahnya. Betapa guru atau  sekolah  harus bekerja keras  mentransfer materi pelajaran  dari  proses belajar-mengajar tata muka  ke  proses belajar mengajar melalui online..
Sekolah dan guru sudah berinisiatif dan berkreatif   mewujudkan proses pembelajaran melalui online.  Tidak ada panduan yang sesuai diharapkan, agar proses  belajar mengajar  benar-benar  mampu mendapatkan hasil belajar optimal. Tidak ada waktu belajar, untuk merancang  pembelajaran berbasis online. Setelah  ada instruksi belajar dan mengajar  dari rumah yang begitu mendadak dan dalam kondisi dalam  kedaruratan, sekolah, guru seolah tak berdaya.Mau tidak mau harus dilaksanakan instruksi itu.  
 Bagaimanapun guru harus  tetap berusaha berdaya menghadapi  belajar dan bekerja dari rumah tanpa ada perencanaan ‘pendidikan’  berbasis online. Tapi sekolah, guru  dituntut harus  mampu  menstranfer materi pelajaran dengan  hasil belajar dan bekerja optimal.

Di sisi lain, guru  menghadapi kendala dari peserta didiknya. Dari  kesiapan segi fasilitas perangkat teknologi. Ada lagi orangtua yang tidak mampu mendampingi anaknya ketika anak belajar di rumah lewat online. Karena latar belakang orangtua yang berbeda-beda,  sisi  pendidikan terbatas,  kesibukan bekerja karena  tuntutan ekonomi, kemampuan memberi dukungan membelikan paket pulsa data pada anaknya dan masih banyak faktor psikologis  anak dan orangtua. Soal ini adalah tugasnya para ahli konseling atau psikolog.

Perlukah belajar dari  keberhasilan  dari Ruang Guru,   startup teknologi yang berfokus pada ‘pendidikan’ berbasis online,  dikelola dan dimotori Adamas Belva Syah Devara? Eks Staf Khusus Milenial Presiden RI, yang kabarnya memiliki kekayaan di atas Rp 1 triliyun dari hasil mengelola ruang guru sejak tahun 2014?  (Kompas.com - 24/04/2020)
Jawabannya bisa  perlu atau  tidak perlu. Ruang guru berkembang karena didukung  finansial kuat, sebuah perusahan nirlaba.

Sedangkan dalam kondisi darurat, tidak mungkin sekolah .bisa melaksanakan  pembelajaran lewat online  dengan hasil maksimal seperti keberhasilan dicapai ' Ruang Guru'. Namun  harus diingat, Ruang Guru tidak secara utuh menggabungkan aspek-aspek penilaian kognitif, afektif dan psikomotor. Ruang Guru hanya terkesan kuat pada sisi kognitifnya. Ruang Guru  bisa sebagai ghiroh  (semangat) sekolah  dan dalam pengetrapan pembelajaran dengan online.

Nah,  sudah waktunya pendidikan kita tidak terus-menerus  terbelenggu dalam  suasana pandemi Covid-19. Cepat atau lambat pandemi  Covid-19 bakal berlalu. Sekarang yang dihadapi adanya tuntutan  bagaimana  merencanakan pendidikan berbasis  online agar bisa secara sederhana bisa diintegrasi  ke dalam  pembelajaran online yang nantinya bersentuhan dengan guru dan peserta didik.  Perencanaan  Pendidikan berbasis online inilah masterpiece dari pembelajaran online yang sewaktu-waktu dan secara periodik bakal  digunakan sekolah dalam kondisi pembelajaran  darurat seperti pandemi Covid-19  maupun dalam kondisi pembelajaran normal.  (*)  
.

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top