* Upaya Guru  Bangkitkan KBM di Tengah Pandemi Covid-19
Penulis: Enni Aslihatul Kirom, Guru MTs.Negeri 3 Ngawi Jawa Timur
BOLEHLAH Guru berpendapat bahwa proses kegiatan belajar mengajar (KBM} lewat online itu sungguh merepotkan bagi siswa dan orangtua. Bahkan ada guru  dengan lugu mengaku  ‘tersiksa’. Penyebabnya bukan diterapkannya  kebijakan sistem pembelajaran dalam jaringan, namun itu semua  karena faktor belum  terbiasanya guru maupun siswa melakukan proses KBM dengan online. Yang membuat guru puyeng tujuh keliling adalah hambatan berkomunikasi   dengan siswa.  .
 Masih ada  siswa  tidak punya  smartphone/handphone. Memiliki handphone namun dianggap jadul alias tidak canggih. Sehingga tidak bisa video call-an, tidak bisa mengirim gambar, tidak bisa mengunduh aplikasi program e-learning, skype, zoom atau aplikasi pembelajaran online lain. Saat Ujian Akhir Sekolah/Madrasah (UAS/UAMBKS/PAT) guru tidak bisa tenang sebab ada beberapa siswanya yang tidak on time saat jam pembelajaran online. Alasannya beberapa hal: Orangtua belum mampu membelikan smartphone, tidak punya kuota pulsa paketan.

Orangtua belum membelikan smartphone dan pulsa paketan. Orangtua belum punya uang, keterbatasan ekonomi.  Malahan ada orangtua terpaksa mengajak anaknya untuk memancing ikan, padahal sedang ujian.  Cara ini tidak lain untuk menghibur anak Karena belum bisa membelikan pulsa paketan.

Ada lagi punya kuota, punya pulsa paketan tetapi  tempat tinggalnya tidak ada sinyal  kuat atau sinyal sering muncul-hilang muncul-hilang. Ada saja hambatan berkomunikasi dalam  KBM lewat online. Itulah fakta yang terjadi.

Smartphone standart/canggih, pulsa paketan dan sinyal kuat adalah sarana pendukung yang sangat dominan dalam proses KBM online. Tidak ada atau tidak punya  smartphone tipe standart tentunya tidak bakal bisa terlibat dalam proses KBM online. Begitu juga fasilitas kuota pulsa paketan, jaringan wifi jadi sarana utama dalam proses KBM online.
Jika sarana pendukung tersebut tidak ada, atau tidak diatasi, maka komunikasi guru dengan siswa tidak akan terjadi. Gagal sudah tujuan pembelajaran online yang diharapkan. Menghadapi kondisi seperti itu,  upaya  guru adalah  ‘memaksakan’ anak memiliki smartphone, harus punya paket pulsa dan harus cari lokasi yang ada sinyal kuat.  Persoalan lain, ternyata   anak PAUD/PIAUD dan siswa SD  banyak yang belum bisa mengoperasikan komputer atau program aplikasi  pembelajaran online. Akhirnya orangtua  yang mengerjakan Ini persoalan yang harus dipikirkan  guru dan sekolah

Karena itu ke depan,  pembelajaran dalam jaringan atau KBM lewat online harus benar-benar dipikirkan sejak dini agar kendala atau hambatan itu tidak terjadi. Pertama,  Guru dan siswa harus dibiasakan untuk melakukan KBM lewat online secara periodik.  Kedua, KBM online masuk dalam pendukung pelaksanaan kurikulum. Ketiga, ada standart penggunaan aplikasi pembelajaran online secara periodik dan kontinyu,meskipun sekolah tatap muka sudah normal kembali. Keempat, harus ada pelatihan KBM lewat online  yang sederhana kepada guru untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Kelima, jika perlu ada penyusunan materi pelajaran untuk KBM lewat online agar  proses KBM  berlangsung efektif dan efesien.

Harapan dari upaya  diatas .agar anak didik terlibat aktif dalam proses KBM lewat online. Meskipun KBM melalui online  memangkas  komunikasi  tatap muka  antar guru dengan siswa secara drastis. Komunikasi vice to vice (tatap muka)  masih dianggap  cara  ampuh bagi guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Siswa lebih cepat menyerap materi pelajaran dengan tatap muka daripada dengan pembelajaran online. Disamping  itu guru harus melakukan pendekatan emosional apabila siswa menghadapi persoalan.

 Presiden Joko Widodo telah memberi sinyal dengan memberi izin  masyarakat *beraktivitas dan berdamai dengan Covid-19 *  fasilitas umum dibuka, termasuk sekolah akan dibuka. Rencananya 15 Juni 2020, tempat-tempat kebudayaan dan sekolah mulai dibuka kembali dengan tetap menerapkan social distancing dan beberapa penyesuaian. Namun KBM lewat online dipastikan masih akan berlangsung dalam proses kehidupan new normal. Pasca wabah Covid-19 adalah ‘PR’ bagi dunia pendidikan untuk membangun  proses KBM tidak hanya tatap muka tapi juga KBM lewat online. sehingga  cita-cita mencerdaskan generasi bangsa yang berbudi pekerti, berakhlakul karimah tetap terwujud.Dukungan dan perhatian orangtua dan berbagai pihak sangat dibutuhkan selama KBM online.berlangsug   (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top