Oleh : : Zid Sayyid Adam Asy-Syifa`, Anggota Cakra Menulis Club, Kelas XI PK 1 MANPK MAN 4 Jombang, Asrama Hasbullah Said-Ponpes Mambaul Ma’arif Denanyar

 ADA sejumlah jenis  penyakit  ganas atau sangat mengerikan, hingga berjatuhan ribuan manusia atas kehendaknya-Nya. Korban sakit dan korban meregang nyawa.  Itulah gambaran  bencana yang melanda di dunia saat ini. Dunia seolah ingin beristirahat agar para makhluk paham akan kekhidmatan pada Sang Agung yang sudah seharusnya   dipegang teguh oleh manusia.

Tidak ada satupun manusia yang bisa bersembunyi di lubang jarum pun apabila bencana datang. Pondok pesantren,  lingkungan yang jelas-jelas aman,  tentram dalam segi kawasan, dan  sehat dalam segi pengaruh masyarakat beragam, juga terkena dampaknya. Pondok Pesantren dibayang-bayangi juga makhluk yang tak terlihat.  Makhluk yang sudah  menyebar dan menjadi momok seluruh dunia. Mengincar manusia tanpa pandang bulu. Makhluk menakutkan manusia itu  adalah virus Corona-biasa dengan sebutan  coronavirus disease-19 (Covid-19), kini telah merebak ke segala media kehidupan. 

Kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan mencengangkan.  Virus corona menginfeksi lebih dari 200 negara di dunia hingga Rabu (8/4/2020) pagi.  Adapun jumlah kasusnya saat ini hampir menyentuh angka 1,5 juta atau tepatnya 1.424.140 kasus positif Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 301.738 orang dilaporkan sembuh dari Covid-19.  Sebanyak 81.889 orang lainnya meninggal dunia. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/08}
Jum'at (28/03) Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar Jombang, melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh lingkungan,  termasuk asrama-asrama di lingkungan ponpes.  Asrama Hasbullah Sa'id, tempat mukim santri MANPK di kawasan pondok pesantren Mamba'ul Ma'arif  pun juga begitu. Fogging disefektan  tak lain untuk  membasmi dan mencegah Covid-19 yang tumbuh-kembang secara diam-diam.

 Demi kemaslahatan,  sementara santri yang masih mukim  diminta  menjauh.  Mengaji dan belajar di rumah masing-masing.  Kecuali   santri  asal kota yang dikatagorikan zona merah Covid-19, memilih untuk self quarantine di asrama, sampai kota asalnya dianggap sudah nyaman.

Kyai pengasuh, ustad-ustadzah-nya menggerakkan  santri ‘melawan’ Covid-19. Wujudnya, selain upaya ikhtiar  dhohir dengan menjaga kebersihan dan kesehatan, santri diminta untuk berdoa terus-menerus, mengaji,  bertakfakur, berdzikir, bersholawat agar  ujian dan cobaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa segera dicabut. Kegiatan mengaji, belajar dialihkan ke rumah masing-masing dengan media online.

Kebiasaan di  pondok pesantren,  di asrama dan madrasah  benar-benar   ‘diboyong’ santri di rumah sendiri. Santri selalu diingatkan untuk tidak mengubah kebiasaan mengaji dan belajar kala di rumah. Dianggap berat juga tidak, dianggap ringan  juga tidak. Semua didasarkan pada harapan menjadi santri yang bermanfaat untuk dirinya, keluarga,  masyarakat, agama, bangsa dan negara.  Dengan mengusung tradisi ponpes  di rumah,  bukti bahwa santri juga ikut berjuang ‘melawan’ Covid-19 demi ketentraman dunia.  Santri mengikuti social distancing, physical distancing.
Sudah dua minggu lebih, santri tidak berada di asrama. Tidak berada di lingkungan pondok pesantren,  Rasanya ada yang ‘hilang’. Ngaji bersama, tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama) berupa belajar kitab, bersendagurau dengan sesama santri, berolahraga, tahlil bahkan bertawasul di makam kyai sepuh,  sementara tertunda dulu. 

Sampai kapan situasi seperti ini?  Selama  bertujuan baik insyaallah akan menimbulkan hasil yang sangat baik, bahkan jauh lebih baik. Semoga bumi kembali membaik dan Tuhan selalu menyayangi semua makhluk-Nya, terutama teruntuk manusia.  Sebagaimana pesan pengasuh pondok/asrama,  meski di rumah  santri harus tetap mengaji, berdoa dimana pun berada agar wabah penyakit yang sedang ditimpakan manusia segera disudahi. Umat kembali  bersujud kepada Tuhan-nya. Fafirru Ilalloh Fafirru Ilalloh…. Fafirru Ilalloh….(*)

·        

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top