Penulis : R. Rudi Sulisdiana, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga  Ngawi
BADAI Pandemi Covid-9 menerjang,  pikiran pelaku usaha pariwisata, hotel dan restauran/kuliner  jadi  melayang-melayang. Mereka dibayang-bayangi merumahkan dan mem-PHK karyawannya yang menggantungkan  penghasilan dari usaha pariwisata, hotel atau restoran/kuliner.  Namun mereka semua tidak menginginkan itu terjadi. Karena  semua masih punya pengharapan besar,  pandemi Covid-19 cepat berlalu. Dunia usaha wisata, hotel, restoran/kuliner tidak makin terpuruk, bangkit kembali. 

Namun kalau boleh digambarkan nasib pelaku usaha dan karyawannya di ujung tanduk. Hidup segan mati tak mau. Hingga detik  inipun sudah ada  usaha pariwisata, hotel dan restoran merumahkan. Muga tidak  mem-PHK karyawannya. Yang terjadi  menyiasai masuk kerja,  sebagian libur sebagian masuk kerja. Tidak tahu itu sampai kapan.  Bisa jadi sampai kondisi Covid ini mereda sehingga usaha pariwisata, hotel, restoran serta kuliner akan mengeliat-menggeliat lagi.  Para wisatawan, penghuni hotel dan  penyuka santap kuliner kembali datang menikmat jasa yang ditawarkan para pelaku usaha.

Coba saja di Ngawi, 10 hari lebih dampak wabah penyakit akibat Covid-19 corona cukup terasa. Travel biro membatalkan semua job sampai akhir Mei  semua tempat wisata tutup sampai pertengahan April. berarti tutup sebulan. Dalam sebulan sudah pasti pelaku usaha tidak mendapat pemasukan. Padahal mereka ada pengeluaran rutin, biaya operasional dan lainnya. 

Rumah makan transit berkurang 70 persen sebab pihak perusahaan angkutan sebagai mitra mengurangi kendaraan yang jalan, karena penumpang sepi. Bahkan  rumah makan di Ngawi berkurang hinggga 90 persen tidak ada kendaraan pariwisata yang singgah.  Rumah makan yang melayani  event, meeting dan wedding merumahkan karyawannya karena meeting ditiadakan,  kegiatan sewa pengantin juga dilarang, termasuk  kegiatan yang mengundang banyak orang. Ini semua untuk  mencegah dan menanggulangi  menyebarnya Covid-19. Data ini pasti berkembang sampai  pertengahan April ini. 

Cafe dan resto hanya melayani take way (dilarang makan ditempat dan dibatasi jam operasional hanya sampai pukul 21.00) Praktis dunia kepariwisataan benar-benar ‘sekarat’ hingga kini. Seandainya nanti berlangsung hingga akhir tahun,  bisa dibayangkan berapa besar kerugian para pelaku pariwisata, hotel, restoran dan usaha kuliner. Bahkan tidak bisa dibayangkan   karyawan yg dirumahkan kaena  akan banyak usaha  tutup. Kini pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa,  masyarakat, seluruh elemen masyarakat, usahawan/perusahan swasta bersama berupaya keras menanggulangi Covid-19 agar kehidupan normal kembali. Aktivitas dunia usaha pariwisata, hotel dan restoran/kuliner. hidup kembali, semua bisa tersenyum  dengan  rasa bersyukur yang mendalam.  (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top