* Ngawi Butuh Membangun Kerjasama Untuk Berbagi.

Penulis: Kang Peno, Legislator PAN - Ngawi
           
Syahwat para politisi ketika mamasuki arena permainan (baca:pemilu) pasti berharap kemenangan. Ini sangat dimaklumi karena bermain apapun saat melakukan pertarungan target yang diraih adalah juara.

Sebelum bertarung di kancah permainan (politik), agar tidak  gagap menjadi politisi  seharusnya dibekali literasi yg cukup. Yaitu bermodal penguasaan tentang kesejarahan, kaidah moral, norma hukum, maupun  penguasaan politik dalam konteks  ‘permainan ‘. Mengapa? Karena tidak mungkin akan menjadi petarung politik yang matang dan profesional sekaligus tangguh bila lemah penguasaan terhadap literasi tersebut.

Diantara literasi diatas sebagai determinasi  penentu arah kemenangan adalah  melihat politik dalam perspektif "Permainan". Karena dengan pendekatan permainan kasunyatan politik dapat di potret lebih jelas dan realitis. bukan  dari perspektif menara gading.

Dari segala bentuk jenis permainan saat politisi memenangkan pertarungan harapan kita endingnya adalah diperuntukan  kemaslahatan bagi masyarakat. Dan itu semestinya dilakukan oleh politisi Karena dia diberi ruang bermain oleh negara, dengan tujuan semata mata sebagai instrumen  menata pranata sosial yg lebih baik.

AMPUTASI, KOMPETISI ATAUKAH KOLABORASI
Banyak jenis dan pola Permainan yang dilakukan politisi agar target gool dapat tercipta. yaitu dengan model  "Berkolaborasi, Berkompetisi maupun cara Amputasi ".

Pilihan bermain dengan cara  " Amputasi " biasanya dimainkan  saat rezim kolonialis. rezim ini punya pakem baku siapa yang memenangkan permainan dialah sebagai penentu dan penguasa segalanya. " homo homini lupus " siapa yang kuat itulah yang menguasai permainan. Siapapun  yang hendak mengkritisi kekuasaan atau bahkan ingin merebutnya, dipastikan akan mendapatkan hukuman dengan cara diamputasi. Atau Istilah yang terkenal dengan 3 D. yaitu Dibunuh, Dibuang dan Dibui.

Pola bermain yang demikian dinamika permainan politik praktis monoton, karena penguasaan hanya pada satu pemain, sedangkan yang lain harus tunduk dan patuh serta semua serba terkontrol. 

Cara mengendalikan permainan tidak dibutuhkan membagi dan menabur dengan rasa Cinta, tapi selalu diberi sebaran rasa takut, karena hanya dengan cara itu pemenang mampu mengendalikan permainan. Tapi model ini akhirnya banyak terjadi gugatan juga perlawanan, maka muncul ide dari seorang filsof social politik dan ekonomi yang punya gagasan , apabila berharap memajukan masyarakat, pemenang atau penguasa tidak usah terlampau mengontrol  pemain. Berilah ruang individu untuk " berkompetisi" dan bila itu dapat dilakukan maka roda ekonomi masyarakat bisa tumbuh dan sistem demokrasi politik dapat berjalan.

Tapi realitasnya,  justru pola berkompetisi ini melahirkan  oligarki ekonomi dan politik yang berbuntut kekuasaan untuk menguasai. Memunculkan para kapitalis yang anti pemerataan ekonomi.  Kondisi pasar  terhegonomi dan dibuatlah pola ketergantungan yang sebagian besar masyarakat didesain agar jangan sampai pertumbuhan ekonomi  melampaui standarisasi yang sudah ditentukan. Akibatnya bisa jadi akan mucul  kesenjangan ekonomi yang menganga.

Geopolitik dan ekonomi pun nyaris sama. Pola permainan "berkompetisi" dibalut dengan demokrasi melahirkan oligarki politik yang dikuasai oleh sebagian orang saja. Dan Lebih ironis sebagian kecil orang tersebut adalah para kapitalis yg telah dimanjakan karena pola "kompetisi" dalam sistem demokrasi.

NGAWI KE DEPAN BUTUH POLA "KOLABORASI"
Kolaborasi ( Collaboration ) adalah salah satu jenis permainan politik yang  pola bermainnya  mengutamakan membangun kerjasama untuk berbagi. Tidak ada monopoli dari salah satu pemain. Ini sesuai dengan falsafah budaya kita " Berat sama di pikul ringan sama di jinjing ".

Kompleksitas  pemangku kepentingan di Ngawi meliputi representasi pelaku usaha, politisi, akademisi, organisasi agama dan masyarakat, serta berbagai komponen atau kepentingan yang lain pengaturan model permaianan " berkolaborasi " sangat tepat digunakan. Karena dengan model berkolaborasi kepentingan para pemain (pemangku kepentingan) dapat terakomodir, dan impactnya  kesenjangan ekonomi dan politik akan semakin dapat tereduksi karena semua pemangku kepentingan sudah terakomodir kran/saluran aspirasi politiknya.

Mempertimbangkan permasalahan di Ngawi masih banyak yang perlu ditangani terutama urusan pertumbuhan ekonomi, penekanan angka kemiskinan, dan pengangguran, maka Penyelesaian  yg kompleks tersebut tertumpu pada satu komponen saja susah terselesaikan.

Oleh sebab itu melibatkan banyak komponen dengan penataan  pola    " berkolaborasi "  sebagai solusi yang terbaik. Bahwa kemudian implementasinya ada dinamika ini bagian gimik gimik penyedap dalam berdemokrasi.

Akhir kata dari narasi di atas stresingnya adalah agar Kabupaten Ngawi ke depan  akan semakin menjadi lebih baik,  maka  calon Bupati (termasuk calon wakil bupatinya) ke depan sangat dibutuhkan sosok Calon  yang cerdas memainkan seni dalam mengelola kepentingan (the art of managing interest). (*)

.


 .

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top