·          * Hama  ‘Den Bagus’ Tikus   Fenomena Alam Apa? (2)
CAKRANEWS.NET-SEBENARNYA ada apa dengan bumi
Gropyokan sarang tikus di lahan sawah  di  daerah Ngawi.
ini? Apa yang salah dengan umat ini? Dosa apa yang telah diperbuat manusia di bumi ini? Mengapa tikus merajalela membabat habis  tanaman padi milik petani? Tanda pagebluk? Sudah terjawab. Ada  ada tanda-tanda pagbeluk pangan. Ini harus diantisipasi.  Bagaimana  agar tidak  kekurangan pangan, meskipun saat ini  rakyat kecil merasakan susahnya mencari sandang pangan papan. Dan mengapa merajalelanya tikus diikuti bergentayangannya  ‘hantu’dan teror  virus Corona di belahan masyarakat dunia. Kabarnya  sumber virus itu dari  binatang, termasuk salah satunya dari tikus. Tanda-tanda alam itulah  yang kini sedang  diungkap  Ir Edy Ristiono—Ki lawu Maospati Magetan—spritualis dan pengasuh Padepokan Kemuning Bhakti Persada, Jala Raya Madiun-Maospati, Magetan. Awam mengenal  Ki Lawu Maospati adalah paranormal yang memiliki   ilmu linuwih terkait berbagai persoalan yang dihadapi seorang. 

Segala upaya telah dilakukan untuk membasmi tikus,  tetapi hasilnya cuma mengecewakan. Dalam bahasa Jawa sudah mentog alias kateg. Untuk itulah kita sebagai manusia yang kemampuannya serba terbatas jangan merasa tinggi hati ataupun jumawa. Seolah-olah kita bisa mengatur perputaran alam dan seisinya.  Nah,  nyatakanya malah menimbulkan bencana yang mengerikan.

Dulu, orangtua-orangtua dalam usaha lahir sudah mentog alias kateg, berupaya dengan ikhtiar batin. Namun alangkah naifnya kita yang hidup di jaman modern ini menganggap usaha batin orangtua kita dianggap gugon tuhon ataupun tahayul dan sebagainya.  Cendrung menganggap oran tua kita dulu bodoh. Eeee…jangan berprasangka dulu. Ingatlah segala sesuatu yang kita ciptakan sekarang adalah hasil renungan batin yang dalam dan olah pemikiran yang cemerlang. Demikian juga tikus yang merupakan hama petani. Orangtua kita dengan ilmu titi lan titen-nya serta menggunakan otak atik gatuk nanging mathuk,  menengarai adanya suatu fenomena peristiwa alam yang bakal terjadi.

Tikus menurut orangtua dulu melambangkan penyakit atau pagebluk. Selain itu tikus merupakan kinayah atau kiasan dari manusia pengerat yang menghabiskan uang rakyat alias koruptor. Dis aat petani dengqan susah payah menanam padi hanya dalam waktu hitungan jam padinya amblas. Menurut hitungan orang dulu, kalo penguasa yang makan uang rakyat dalam jumlah milyaran dan akan selamat karena apa? Mereka korupsi dilakukan secara bersama sama. Sehingga sangat sulit bakal ditangkap karena semua banyak terlibat. Itu dilambangkan dengan tikus sawah yang menyerang padi bersama sama dan sulit diberantas. Sedangkan orang yang mencuri majanan atau uang recehan digebuki sampai babak belur, itu masih untung tidak sampai meregang  nyawa.

Banyak dari pencuri ‘recehan’ yang mati karena melakukan pencurian dengan nilai yang tak seberapa tapi menerima akibat  hingga kehilangan nyawa. Mati digebuki  rame-rame. Ini dilambangkan dengan TIKUS RUMAHAN, pencuri yang hasilnya  dimakan sendiri, dan mudah tertangkap. Itulah hukum manusia yang jauh dari keadilan apalagi kebenaran..semoga kita introspeksi dan mawas diri segala kejadian dan tanda tanda alam karena alam menyuarakan seruannya dengan kejadian kejadian bencana baik bencana alam ataupun bencana sosial. (rto)
 .

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top