Oleh : Sugiharto, Dosen STIT Islamiyah Karya Pembangunan Ngawi

Tuntutan  pembubaran Partai Komunis Indonesia

‘Palu-arit’, dua kata bangkitkan emosi sensitif dari  sejarah  kelam perpolitikan Indonesia.  ‘Palu arit’  bagian dari simbolisme komunis. Simbol yang  menyiratkan hubungan dengan komunisme, partai komunis, atau negara komunis.

Wujudnya berupa  benda tumpul dan  tajam, tumpang-tindih bersilang. Di masyarakat,  palu untuk memukul, menancamkan paku, memecah batu.  Apapun benda bisa dihancurkan dengan namanya palu. Arit benda tajam untuk  membabat  pohon, rumput, memotong  apapun yang perlu dipotong, Membabat  benda apa yang perlu dibabat.

Di dunia perpolitikan  atau kenegaraan, palu-arit sebuah simbol.  Masing-masing mewakili kaum buruh (palu) dan petani (arit), Menyimbolkan persatuan kedua kaum tersebut. Simbol ini muncul pada saat meletusnya Revolusi Rusia.  Dikenal luas setelah dicantumkan di panji merah Uni Soviet dan Partai Komunis Tiongkok beserta bintang merah

Di Indonesia, penggunaan simbol 'palu arit'  dinyatakan terlarang bersama dengan paham komunisme sejak 1966. Pelarangan tertuang dalam Ketetapan MPRS (TAP MPRS) Nomor XXV/MPRS/1966 tahun 1966 dan Undang Undang No. 27 tahun 1999 , yang secara resmi menyatakan pelarangan terhadap paham komunisme dan Marxisme-Leninisme, serta pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pecahnya Peristiwa 30 September 1965. Pelarangan itu masih berlaku hingga detik ini. 

Memang ada upaya usulan pencabutan TAP MPRS oleh sekelompok  kecil pembela paham komunis,  namun upaya itu ibarat ‘nggugah macam turu’.  Jangan sekali-sekali bangunkan harimau yang sedang tidur, jika tak ingin diserang. Jangan sekali-sekali membongkar  ‘kubur’ sejarah politik kelam Indonesia yang menelan  korban banyak nyawa dari penentang PKI maupun dari pihak PKI dan pendukung PKI /Komunisme.

Selain Indonesia, simbol ‘palu-arit’ ditolak di sejumlah negara. Mereka  melarang penggunaan simbol ini.  Jerman, Amerika Serikat, Polandia, Ukraina, Latvia, Lithuania, Hungaria dan Korea Selatan. Karena mereka hampir sama mengalami peristiwa akibat tindakan komunisme terhadap bangsa dan negara yang tidak sepaham dengan mereka. Peristiwa biadab  juga dialami rakyat Indonesia yang tak bersalah dan tak berdosa karena tidak sepaham dengan penganut komunisme dan PKI kala itu.  Pemberontakan PKI di Madiun 1948 dipimpin Muso. Pemberontakan PKI dengan Gerakan/30 September 1965 (G/30 S PKI).  Kedua gerakan itu  bisa ditumpas oleh  pemerintah sah  yang berideologi Pancasila.

Nah, sekarang banyak  tokoh yang mengingatkan adanya  indikasi membangkitkan komunisme di Indonesia. Ada temu alumni, dan artikel yang mengandung paham komunis dan pro PKI/komunisme.  Indikasi ini juga dapat dilihat dengan fakta fenomena gerakan mendompleng isu-isu kekinian. Mendompleng kapitaslisme, isu hak azasi manusia (HAM), isu SARA, isu keresahan dan kemiskinan, dan lainnya. Ada temu alumni, dan artikel yang mengandung paham komunis dan pro PKI. Gerakannya rapi. Hampir tidak dilihat dengan mata telanjang, Karena terbungkus dengan ‘cashing nan cantik’. Orang akan tertarik.  Boleh jadi itu seperti diingatkan  oleh  anggota dan kader Pemuda Pancasila Kabupaten Ngawi “Waspadai komunis gaya baru’. 

Kewaspadaan itu juga  berlaku  terhadap  gerakan paham lain yang bertentangan dengan Pancasila. Gerakan komunis gaya baru, gerakan  radikalisme, khilafah, terorisme dan paham lain ingin menghancurkan Pancasila dan Negara Kesatuan  Republik Indonesia (NKRI). Itulah yang baru lalu diingatkan elemen  Pemuda Pancasila memepringatai Hari  Kesaktian Pancasila,. Sepatutnya semua elemen bangsa terus waspadai dengan paham  komunis dan paham-paham lain yang  merongrong bangsa dam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pancasila Abadi-NKRI harga mati! Barakallah Indonesia! (*)

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top