Oleh : Sugiharto,   Dosen di Sekolah Tinggi  Tarbiyah (STIT) Islamiyah KP Paron Ngawi,   Pengurus LTM-NU PCNU Ngawi  

HINGGA detik ini, para kiai,  santri dan pesantrennya benar-benar memahami dan menerapkan “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari  iman.  Mempertahankan kemerdekaan,  meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.  Boleh dikata,   santri  sudah menjadi  bagian dari pondasi dan pilar  moral bangsa, khususnya moral generasi muda.  Kiprah santri sudah teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri telah berdiri tegak  di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman.

Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârusalâm. Pernyataan ini adalah legitimasi fiqih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila.  Kemudian pada 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tujuh kata dalam sila pertama yang berbunyi “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” , ditolak karena berpotensi memunculkan disintegrasi bangsa. Pada 1953, santri memberi gelar  Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat  (pemberontak) yang harus diperangi.

Sejarah mencatat Komunis Indonesia pegang rekor dunia: tiga kali berontak/kudeta, 1926, 1948, dan 1965. Ketiga-tiganya gagal.  Pada 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme dan kebiadaban  kelompok komunis.
Tidak berhenti disitu.  Pada 1983/1984, kaum santri mempelopori  menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara . Menurut KH Said Siraj, Ketua Umum PBNU,   kaum santri  sudah menyatakan  sikap tegasnya bahwa  NKRI sudah final sebagai konsensus nasional, mu’âhadah wathaniyyah.

Selepas reformasi, kaum santri menjadi salah satu kekuataan  di dalam proses reformasi, sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945.  Ditegaskan oleh kalangan santri,   NKRI adalah negara-bangsa, bukan negara agama, bukan negara suku.  Seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.  Sudah terbukti peran santri sangat besar dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini.  Ukhuwah Islamiyah,  Kemerdekaan  dan  eksistensi Negara Republik Indonesia (NKRI) , serta  perlawanan   terhadap ideologi komunis  adalah satu kesatuan dalam sejarah santri di Indonesia .

Itulah  ‘jihad’  para santri .  Nah,   sekarang ‘jihad’ santri dalam wujud apa ? Angkat senjata? Padahal  ‘musuh’ tidak  bersenjata.   Terus apa yang  dilakukan santri menghadapi situasi dan kondisi jaman  sekarang ini?

Ancaman bahaya laten PKI/komunisme  masih terus mengusik di berbagai lini. Di segi ekonomi, Komunisme ‘meracuni’  dengan  bungkusan kapitalisme.  Masuk dalam segala sosial budaya, pendidikan,  politik, bahkan terang-terangan menyebarkan simbol-simbol komunisme untuk menunjukkan  eksistensi bahwa mereka masih ada.

Upaya mengkaburkan fakta-fakta  sejarah pun dilakukan.  Mereka ingin mengkaburkan  bahwa tindakan PKI selama ini  tidak sebiadab  di buku-buku sejarah, film-film dokumenter.  Bahkan  mereka pun menyajikan  penelitian dan investigasi menurut versi mereka.  Karena itu,  bahaya laten  itu  harus terus-menerus  diwaspadai dan dibendung oleh santri, dan seluruh  masyarakat  yang cinta pada NKRI.

Belum lagi soal gerakan radikalisme, terorisme, gerakan khilafah yang sembunyi-sembunyi.  Santri menjadi incaran kelompok radikal.  Santri  harus membentengi diri dari kelompok-kelompok itu dengan ilmu agama yang benar,  tuntunan ajaran agama yang benar.  Santri  harus  berani menolak tegas ajaran radikalisme dan terorisme.

Selain mengusai ilmu  agama, santri dituntut mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Menyatukan ilmu agama dengan  ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ‘perjuangan’ membangun akhlak umat dari ancaman kelompok radikal, kelompok teroris,  penganut komunis dan paham yang tidak sesuai dengan filosofi bangsa.

Yang tidak kalah penting,  santri  wajib membangun ukhuwah Islamiyah  dari berbagai penjuru nusantara. Sudah terbukti bahwa jalinan  ukhuwah Islamiyah  menjadi modal dasar memperkokoh NKRI, selain  jalinan memperat  persaudaraan  dengan  antar umat beragama.

NKRI  bakal  tetap kokoh berdiri  jika  para santri tetap memegang teguh nilai nilai yang pernah  diperjuangan  sebelumnya,  mulai sebelum kemerdekaan hingga  sekarang.   Santri ,  Ukhuwah Islamiyah,  Kemerdekaan  Negara Republik Indonesia (NKRI) dan perlawanan  terhadap paham-paham yang   tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia adalah satu kesatuan dalam sejarah santri di Indonesia .  Karena itu tema  “Santri Untuk Perdamaian Dunia,  di peringatan  Hari Santri Nasional 2019, bukan sekedar ‘jargon’ tetapi sudah menjadi tuntutan jaman bahwa santri-santri Indonesia di belahan dunia manapun  layak jadi ‘Duta perdamaian Dunia’. (*)


.

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top