CAKRANEWS.NET, Ngawi – Museum Trinil Ngawi Jawa Timur terus menjadi obyek ilmu pengetahuan kehidupan pra sejarah. Kali ini Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) bersama Universitas Leiden dan Museum Naturalis Biodiversity Center Belanda melakukan ekskavasi di sedimen Bengawan Solo di dekat Museum Trinil, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Ekskavasi kali ini bertujuan mempelajari kehidupan manusia purba pithecanthropus erectus yang pernah ditemukan oleh Eugène Dubois. Penggalian titik yang diyakini terdapat fosil purba tersebut di mulai tanggal 19 September 2019. “ kita melakukan penelitian disini kurang lebih untuk satu bulan.” Terang Shinatria Adhityatama dari PPAN
Di lokasi tersebut, mereka menemukan  banyak fosil  yang diyakini  hidup pada ratusan ribu tahun silam. Selain Itu mereka juga melakukan penelitian temuan fosil Gajah Purba ( Stegodon Trigonochepalus ) oleh warga yang melakukan kegiatan tambang pasir beberapa waktu lalu.
Shinatria Adhityatama
Selama dua pekan lebih melakukan ekskavasi, mereka berhasil menemukan sejumlah fosil hewan purba yang diperkirakan hidup pada zaman pleistosen atau sekitar 800.000 tahun lalu. Temuan itu berupa tulang dari fauna air maupun darat. "Sampai saat ini belum ada temuan fosil manusia purba, hanya fauna - fauna saja yang jumlahnya banyak sekali." Terang Shinatria.
Sampai Selasa ( 8/10 ) mereka sudah mengidentifikasi puluhan bagian dari tulang kerangka maupun gigi hewan purba. “Pasir yang ada di sana ( Bengawan Solo ) kita bawa pakai karung. Kemudian kita bersihkan untuk di seleksi. Dan banyak sekali hewan purba air yang kita temukan” Lanjut Shinatria
Fosil-fosil hasil temuan tersebut kemudian dikumpulkan untuk diidentifikasi dan diteliti lebih lanjut oleh tim gabungan arkeolog dua negara tersebut. Fosil yang sudah teridentifikasi dimasukkan dalam kantong plastik dan diberi label. 
Dengan banyaknya fosil yang ditemukan di area Trinil dan terkumpul di titik - titik tertentu, ada dugaan dari Arkeolog bila kematian hewan purba tersebut karena bencana. Dugaan kematian tersebut sementara mengerucut pada gunung yang meletus. Akibat erupsi gunung berapi, mahluk hidup tersapu lahar dan terkumpul pada titik tertentu.
Diakatakan Shinatria bila Wilis dan Lawu adalah gunung terdekat dari temuan fosil – fosil koleksi Museum Trinil “Ada indikasi adanya lahar, kemungkinan meletus gunung berapi cuman ya masih kita pelajari asalnya dari mana. Tinil ini dikelilingi gunung , ada Wilis ada Lawu. Jadi kemungkinan dulu ada erupsi yang sangat besar.”
Melalui penelitian tersebut diharapkan dapat diketahui lebih jauh peradaban purba. Diperkirakan masih banyak jenis fosil yang ada di sedimen aliran Bengawan Solo yang belum diangkat. Bahkan terlihat kumpulan fosil di Laboratorium Museum Trinil yang belum teridentifikasi. (RYS )



Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top