Oleh Sugiharto, Dosen STIT  Islamiyah Karya Pembangunan Ngawi   
      
Baru  saja  kita mengalami tragedi  dalam berbangsa. Rusuh terjadi  di Manokwari Papua  saat masih dalam  suasana  Negara Kesatuaan Republik Indonesia (NKRI)  memperingati  HUT RI ke-74 tahun. Itu buntut dari  aksi berbau rasial di sejumlah   kota  di Jawa.  Sedih, prihatin. Mengapa masih saja terjadi rusuh? 

Rusuh di Papua  kembali  mengingatkan  banyak orang tentang sepak terjang sosok  KH Abdurrahman Wahid atas Papua. Gus Dur—panggilan dari  cucu pendiri Nahdlatul Ulam-  sangat dikenang warga Papua, karena sikap dan kebijakan kala menjabat presiden keempat.

Gus Dur mampu menjembatani segala perbedaan kelompok masyarakat tertentu di Papua dalam menyelesaikan permasalahan di daerah. Gus Dur mampu mengalihkan kekalutan politik di Papua pada tahun 2000 silam, melalui proses-proses bermartabat yang jauh dari tindakan anarki yang melibatkan pertentangan antara rakyat dengan aparat.

Hebatnya Gus Dur  mampu melakukan pemikiran dan tindakan dalam kerangka  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) .  Sadar  atau tidak, diakui atau tidak, semua  digiring Gus Dur dalam wadah  ke-Indonesiaan . “Mata Saya memang tidak bisa melihat, tetapi hati Saya bisa merasakan air mata dan penderitaan orang Papua. Maka dari itu wahai orang Papua, akan kukembalikan harga dirimu sebagai bagian utuh NKRI”. Seperti dikutip  di  Suara. Com.

Pikiran, sikap dan tindakan Gus Dur ini  bermakna sangat dalam. Gus  Dur mampu mengolah kata, membela dan berempati atas nasib warga Papua kala itu, dengan tetap mengajak  warga Papua  ke  pangkuan  NKRI. Layak Gus Dur  disebut sebagai sosok  guru bangsa. Apapun persoalannya,  termasuk persoalan sensitif seperti  soal disintegrasi bangsa, sentimen suku-ras dan agama, Gus Dur tetap meletakkan NKRI sebagai  rumah besar bangsa Indonesia. Rumah yang menjadi  impian rakyat sejak bangsa ini merdeka. 

Bangsa ini membutuhkan perekat bangsa yang terdiri dari berbagai suku,  latar belakang kultur budaya berbeda-beda. Perekat yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan politik dan sosial. Paling tidak mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat sekaligus mewujudkan aspirasi berupa tindakan  nyata dalam  rumah besar NKRI yang berpondasi Pancasila.

Seperti harapan  para pendiri bangsa, Pancasila adalah pandangan hidup. Pedoman dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila memberikan kecenderungan untuk selalu berpikir ke depan, serta mengharuskan bangsa Indonesia untuk selalu dapat menyadari situasi kehidupan yang tengah dihadapi. 

Munculnya persoalan  persekusi yang diduga berbau rasial terhadap mahasiswa Papua   di beberapa kota di Jawa: Surabaya dan Malang, hingga memancing rusuh di Manokwari Papuu baru-baru ini,  harus menjadi  moment  yang justru memperkuat  NKRI. Ibarat rumah besar, NKRI makin berdiri kokoh dan kuat, meskipun badai masalah  menerjang. 

Bangsa  Indonesia juga harus makin yakin  bahwa  Pancasila tidak hanya sebagai Dasar Negara,  namun  ibaratnya  Pancasila adalah bintang penjuru. Bintang yang bertaburan di langit sebagai petunjuk  dalam perjalanan  berbangsa dan bernegara. Kita harus yakin Pancasila dalam perwujudannya  menjadi ‘roh’ pemersatu  bangsa. 

Jadi  jangan sekali-sekali kita meninggalkan Pancasila. Memasuki 74 tahun merdeka ini, sudah sepatutnya menjadikan Indonesia  yang terbentang mulai bumi Sabang sampai Merauke, sebagai rumah besar dan Pancasila sebagai dasar negara, bintang penjuru, dan pemersatu segenap bangsa Indonesia”.   (*)


Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top