Perayaan Hari Ulang Tahun  (HUT) Republik Indonesia Ke-74 begitu menyedot perhatian masyarakar Kabupaten Ngawi. Hadirnya agenda besar perayaan seperti sebuah kelengkapan yang harus selalu ada setiap tahun.

Agenda  tahunan yang selalu di tunggu masyarakat adalah Pawai Pembangunan dan Karnaval. Dua acara dengan kemasan kolosal tersebut mampu meraih simpati puluhan ribu pengunjung beberapa tahun terakhir.

Sudah menjadi rahasia umum bila perbincangan mengenai hari dan tanggal pelaksanaannya ramai dalam beberapa minggu sebelum acara dimulai. Tentu hal yang wajar bila melihat pengaruh sedemikian besar dari acara dengan biaya milyaran rupiah itu.

Hadirnya puluhan ribu pengunjung berdampak pada perputaran ekonomi yang cukup signifikan. Ribuan transaksi terjadi dalam pelaksanaannya. Dari persewaan kostum, Jasa rias, pedagang asongan hingga jasa parkir.

Dilihat dari kaca mata ekonomi tentu berdampak positif dalam mendongkrak pendapatan keuangan masyarakat. Milyaran rupiah berputar dalan dua hari pelaksanaan Pawai Pembangunan dan Karaval.

Namun bak dua sisi mata uang, dampak positif tersebut beriring dengan berdampak negatif. Banyak hal merugikan dan tidak terdeteksi  karena tertutup glamournya kegiatan dengan thema pesta kemerdekaan tersebut.

Peserta dalam kegiatan  pawai yang rata – rata dari dunia pendidikan sudah mulai salah arah. Mereka lupa bahwa juara pada kegiatan bukan hal prioritas untuk dikejar dalam pendidikan.

Pun andai juara tentu hanya mengenalkan produk dari Event Organizer (EO) yang harus tetap disewa dengan harga mahal. Tentu beda bila hasil juara diraih dari kreatifitas anak didik sendiri.

Mereka lebih fokus pada juara dan penggalangan dana dari pada pendidikan saat mendekatai pelaksanaan. Ada semacam anggapan bahwa tanpa biaya besar mustahil untuk juara.

Bahkan sekolah dengan label favorit berani menggelontorkan anggara puluhan juta demi meraih juara. Mereka mendatangkan designer khusus dengan berbagai model rancangan untuk kostum khusus atau maskot.

Namun pernahkah terpikir bahwa titel juara tidak akan menambah kecerdasan anak didik, tingginya biaya karnaval sangat membebani wali murid, bahkan persiapan yang panjang cukup mengganggu jalannya proses pendidikan.

Ketika ada anggapan bahwa pemerintah harus segera turun tangan, jawabnya bukan cuma pemerintah. Namun kita semua yang harus merubah mindset agar dampak dari perayaan kemerdekaan mengarah pada hal - hal yang positiv.

Masalah tahun lalu masih terjadi pada tahun ini paska Pawai Pembangunan dan Karnaval. Tetap pada persoalan yang sama yaitu masalah sampah dan kerusakan taman. Ini yang saya maksud panitia tidak tanggap.

Secara tehnis pengalihan rute pawai cukup efektif dalam mengurangi kerusakan taman sepanjang jalan. Namun untuk area Alun - Alun Merdeka tentu butuh seratusan penjaga agar taman terhindar dari kerusakan.

Namun sampah masih menjadi persoalan paska pawai. Dan tentu ini persoalan mindset masyarakat yang harus mendapat perhatian khusus dan antisipasi oleh panitia.

Pada intinya, perayaan kemerdekaan sangat penting sebagai wujud syukur atas perjuangan para pahlawan dan menjadi sarana memupuk nilai - nilai nasionalisme. Perayaan harus terus berjalan namun tetap pada rel perjuangan membangun negeri.

Oleh : Arys purwadi
- Redaktur Cakranews.net
- Pemerhati Sosial

Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top