Al Kafi SM,  Anggota Cakra Menulis Club,  Mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI)                                             UIN Malik Ibrahim  Malang

Di era revolusi Industri 4.0  serba teknologi digital, guru  memiliki  peran penting. Tidak hanya mengajar.  Bukan hanya mampu menguasai  materi pelajaran.  Setelah memberi materi pelajaran  maka tugasnya sudah selesai.  Tetapi guru dituntut lebih dari itu. Sebagai pendidik,  juga sebagai  sosok  suri tauladan (bermoral dan berakhlak).

Guru bagaikan lilin yang menyala dan perlahan habis demi menerangi orang lain, hingga datang batang lilin yang menggantikannya. Guru mengajarkan ilmu, membantu murid dalam memahami ilmu, melakukan apapun yang terbaik untuk muridnya, mengayomi anak didiknya.   Mengapa sebagai pengayom,  karena di sekolah  anak didik menjadi  tanggung jawab sekolah. Jadi tanggung  jawab guru.
Keberadaaan anak di rumah , meniadi tanggung jawab orangtua. Di sekolah diambil alih oleh guru.  Di sekolah  keberadaan anak  harus diayomi oleh guru, tanpa pilih-pilih  kasih pada anak.  Jangan sampai  di sekolah , anak ddik merasa tidak diayomi oleh guru, sehingga anak merasa tidak nyaman di sekolah, tidak tenang ketika mengikuti  mata pelajaran.  Gelisah kala bergaul dengan teman-temannya.  Karena dijahili, merasa tidak diperahtikan oleh guru.   Guru justru tidak memberi ayoman. Ini Bisa jadi  ‘malapetaka’ bagi anak didik.

Andai anak didik merasa tidak diayomi oleh gurunya,   akan menimbulkan persoalan  baru bagi anak didik dan sekolah. Anak tidak kerasan di sekolah. Anak apatis, bertingkah yang tidak diharapkan.  Ujung-ujungnya  anak kabur dari sekolah.  Anak pilih bermain di luar sekolah.  Mereka akan mencari kenyamanan  di luar sekolah. Main game pada saat masih jam sekolah,  mbolos sekolah pilih  main di mall atau  tempat yang dianggap nyaman oleh anak.  

Kalau sudah begitu, maka   tidak hanya problem bagi sekolah, tetapi bagi orangtua.  Bisa jadi bagi masyarakat lingkungan karena  keberadaan anak yang kabur dari sekolah  bisa meresahkan masyarakat.  Itulah pentingnya guru sebagai pengayom anak didik.

Pengayom berasal dari kata ayom, yang artinya menjaga, melindungi, memelihara. Kemudian apabila ditambah imbuhan, bisa menjadi pengayoman, pengayom, terayomi, mengayomi. Pengayom adalah seseorang yang melakukan pemeliharaan terhadap beberapa orang lain agar terwujudnya kesejahteraan antar sesama.
Guru harus bisa menjadi seseorang yang dianggap oleh anak didik  sebagai tempat curahan hati (curhat). Apapun curahan hati itu, guru harus siap untuk ‘menampung’ untuk memberi pilihan solusi anak didik.  Guru dianggap sosok yang  dapat  membantu  menyelesaikan masalah anak didik.
Antara guru dan peserta didik harus memiliki ikatan yang kuat agar proses pemahaman dalam belajar tersampaikan dengan mudah. Sebelum mampu menjaga dan mengayomi siswa-siswinya,. Tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Guru harus mengerti kondisi setiap anak, karena  mereka berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga memiliki masalah yang berbeda pula. Hal semacam ini merupakan hal penting sebagai seorang guru untuk mengetahui masalah yang dihadapi  agar  anak didik bisa  melampaui proses belajar hingga mencapa hasil belajar yang optimal.

Jika sosok guru memiliki semangat yang besar dalam mengajar, tulus, penuh kasih sayang,   penuh pemahaman dan pengayoman,  maka anak didik tidak canggung mendekat kepadanya. Sosok  guru seperti itu menjadi harapan besar dari anak-anak didik,  orangtua dan masyarakat. Ituah guru idola anak didik.
Di era   teknologi  informasi yang serba canggih, muncul problem baru sebagai tantangan manakala guru tidak memiliki kemampuan  dalam mengakses jaringan informasi seperti TV, buku-buku, majalah, koran, dan internet.  Kemampuan  mengakses jaringan informasi itu untuk meningkatkan profesionalisme, memperkaya  pengetahuan  dan menyeseuiakan perkembangan jaman yang sudah menglobal.

Situasi  kondisi makin sulit, jika  guru  tidak profesional  tidak memiliki tanggung jawab  dalam mendidik dan  tidak memberi pengayoman pada anak didik.  Di luar sekolah, di luar rumah, di dunia luar, anak anak  menghadapi tantangan makin besar,  akibat perkembangan jaman yang  nyaris  memisahkan  nilai-nilai moral dan agama. (*)



Posting Komentar

 
Cakranews © 2016. All Rights Reserved. Shared by WpCoderX
Top